/ ip address
add address=192.168.0.1/24 network=192.168.0.0 broadcast=192.168.0.255 interface=Local comment=”" \
disabled=no
add address=10.111.0.2/24 network=10.111.0.0 broadcast=10.111.0.255 interface=wlan2 \
comment=”" disabled=no
add address=10.112.0.2/24 network=10.112.0.0 broadcast=10.112.0.255 interface=wlan1 \
comment=”" disabled=no
/ ip firewall mangle
add chain=prerouting in-interface=Local connection-state=new nth=1,1,0 \
action=mark-connection new-connection-mark=odd passthrough=yes comment=”" \
disabled=no
add chain=prerouting in-interface=Local connection-mark=odd action=mark-routing \
new-routing-mark=odd passthrough=no comment=”" disabled=no
add chain=prerouting in-interface=Local connection-state=new nth=1,1,1 \
action=mark-connection new-connection-mark=even passthrough=yes comment=”" \
disabled=no
add chain=prerouting in-interface=Local connection-mark=even action=mark-routing \
new-routing-mark=even passthrough=no comment=”" disabled=no
/ ip firewall nat
add chain=srcnat connection-mark=odd action=src-nat to-addresses=10.111.0.2 \
to-ports=0-65535 comment=”" disabled=no
add chain=srcnat connection-mark=even action=src-nat to-addresses=10.112.0.2 \
to-ports=0-65535 comment=”" disabled=no
/ ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.111.0.1 scope=255 target-scope=10 routing-mark=odd \
comment=”" disabled=no
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.112.0.1 scope=255 target-scope=10 routing-mark=even \
comment=”" disabled=no
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.112.0.1 scope=255 target-scope=10 comment=”" \
disabled=no
Mangle
/ ip address
add address=192.168.0.1/24 network=192.168.0.0 broadcast=192.168.0.255 interface=Local comment=”" \
disabled=no
add address=10.111.0.2/24 network=10.111.0.0 broadcast=10.111.0.255 interface=wlan2 \
comment=”" disabled=no
add address=10.112.0.2/24 network=10.112.0.0 broadcast=10.112.0.255 interface=wlan1 \
comment=”" disabled=no
router punya 2 upstream (WAN) interfaces dengan ip address 10.111.0.2/24 and 10.112.0.2/24. dan interface LAN dengan nama
interface “Local” dan ip address 192.168.0.1/24.
/ ip firewall mangle
add chain=prerouting in-interface=Local connection-state=new nth=1,1,0 \
action=mark-connection new-connection-mark=odd passthrough=yes comment=”" \
disabled=no
add chain=prerouting in-interface=Local connection-mark=odd action=mark-routing \
new-routing-mark=odd passthrough=no comment=”" disabled=no
add chain=prerouting in-interface=Local connection-state=new nth=1,1,1 \
action=mark-connection new-connection-mark=even passthrough=yes comment=”" \
disabled=no
add chain=prerouting in-interface=Local connection-mark=even action=mark-routing \
new-routing-mark=even passthrough=no comment=”" disabled=no
NAT
/ ip firewall nat
add chain=srcnat connection-mark=odd action=src-nat to-addresses=10.111.0.2 \
to-ports=0-65535 comment=”" disabled=no
add chain=srcnat connection-mark=even action=src-nat to-addresses=10.112.0.2 \
to-ports=0-65535 comment=”" disabled=no
Routing
/ ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.111.0.1 scope=255 target-scope=10 routing-mark=odd \
comment=”" disabled=no
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.112.0.1 scope=255 target-scope=10 routing-mark=even \
comment=”" disabled=no
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=10.112.0.1 scope=255 target-scope=10 comment=”" \
disabled=no comment=”gateway for the router itself”
Total Tayangan Halaman
Rabu, 19 Januari 2011
Hitungan Bit
Yang sering kelupaan …
B = Byte
b = bit
1 Byte = 8 bits
1 bits = 0.125 Byte
1 kiloByte = 8192 bits
1 kilobits = 1024 bits
1 kilobits = 128 Byte
128 kilobits = 16384 byte
B = Byte
b = bit
1 Byte = 8 bits
1 bits = 0.125 Byte
1 kiloByte = 8192 bits
1 kilobits = 1024 bits
1 kilobits = 128 Byte
128 kilobits = 16384 byte
Minggu, 16 Januari 2011
Sekilas Tentang CSS Dan Kelebihannya
CSS (Cascading Style Sheet) secara sederhana adalah sebuah metode yang digunakan untuk mempersingkat penulisan tag HTML, seperti font, color, text, dan tabel menjadi lebih ringkas, sehingga tidak terjadi pengulangan penulisan.
CSS adalah bahasa style sheet yang digunakan untuk mengatur tampilan dokumen. Dengan adanya CSS memungkinkan kita untuk menampilkan halaman yang sama dengan format yang berbeda.
CSS adalah bahasa style sheet yang digunakan untuk mengatur tampilan dokumen. Dengan adanya CSS memungkinkan kita untuk menampilkan halaman yang sama dengan format yang berbeda.
CSS sendiri merupakan sebuah teknologi internet yang direkomendasikan oleh World Web Consortium atau W3C pada tahun 1996.
Untuk saat ini terdapat dua versi CSS, yaitu CSS1 dan CSS2. CSS1 dikembangkan berpusat pada formating dokumen HTML, sedangkan CSS2 dikembangkan untuk bisa memenuhi kebutuhan terhadap format dokumen supaya bisa ditampilkan di printer.
Selain itu, CSS2 menentukan penentuan posisi content, downloadable, font, table layout, dan media type untuk printer. Kehadiran versi CSS2 diharapkan lebih baik dari versi yang pertama. Browser Netscape versi 4x ke atas dan IE 4x ke atas sudah mendukung CSS1 dengan baik.
Beberapa kegunaan dengan menggunakan CSS adalah :
Saat ini, hampir 75% para desainer web menggunakan bantuan CSS baik CSS1 atau CSS2 untuk mempercantik tampilan sebuah situs.
Untuk saat ini terdapat dua versi CSS, yaitu CSS1 dan CSS2. CSS1 dikembangkan berpusat pada formating dokumen HTML, sedangkan CSS2 dikembangkan untuk bisa memenuhi kebutuhan terhadap format dokumen supaya bisa ditampilkan di printer.
Selain itu, CSS2 menentukan penentuan posisi content, downloadable, font, table layout, dan media type untuk printer. Kehadiran versi CSS2 diharapkan lebih baik dari versi yang pertama. Browser Netscape versi 4x ke atas dan IE 4x ke atas sudah mendukung CSS1 dengan baik.
Beberapa kegunaan dengan menggunakan CSS adalah :
- Mempersingkat penulisan tag HTML. Kita tidak perlu mendefinisikan setiap tag dengan properti dan nilai yang sama.
- Mempercepat proses rendering atau pembacaan HTML, karena tidak terdapat pengulanagn HTML.
- Mudah dan cepat dalam me-maintenance. Kalu file CSS yang dibuat secara terpisah, maka kita tidak perlu merombak semua elemen atau properti dalam HTML, cukup mengedit file CSS-nya saja.
- CSS bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh HTML, misalnya kita bisa memberika warna pada input box atau scrollbar, yang tentunya tidak bisa dilakukan oleh HTML.
- Tampilan situs bisa menjadi lebih menarik.
Saat ini, hampir 75% para desainer web menggunakan bantuan CSS baik CSS1 atau CSS2 untuk mempercantik tampilan sebuah situs.
Cisco Eos Social Entertainment
Jangan salah kira kalau Cisco hanya bermain dalam lingkup server atau workstation saja. Beberapa bulan yang lalu, Cisco didaulat oleh Warner Music Group (WMG), perusahaan rekaman yang terbuka untuk publik di Amerika Serikat, untuk menunjang situs artis yang mereka kelola. Dalam hal ini WMG akan menggunakan Cisco Eos Social Entertainment.
Eos ini akan menunjang kemampuan situs, baik untuk kebutuhan artis maupun label sendiri. Disamping itu, Eos juga berguna untuk melakukan aktivitas sharing direct-to-consumer (D2C). Mengusung konsep Software as a Service (SaaS), Cisco Eos memungkinkan pelaku media dan hiburan untuk membuat dan mengelola situs hiburan sosial.
Melalui Eos, artis-artis WMG dapat mendapatkan pengalaman hiburan sosial kepada para penggemarnya. Apalagi dengan lingkungan administratif terintegrasi, Cisco Eos akan membantu WMG meluncurkan situs-situs baru dari artisnya. Eos juga menjaga situs tetap unik dan sesuai dengan karakter asli si artis.
Didalam Cisco Eos ini terbundel beberapa fitur utama, yaitu : jaringan sosial, pengelolaan konten, serta lingkungan administratif analitif dan tunggal. Berkat semua fitur tersebut, perusahaan penyedia konten dan media-pun dapat mengelola situs lebih banyak lagi. Hal ini dibuktikan oleh WMG dalam menggunakan Eos pada empat situs baru mereka.
Keempat situs tersebut bahkan telah meraih nominasi Grammy Award kategori band rock Paramore, penyanyi R&B Trey Songz, band rock Halestron, dan desain ulang dari situs penyanyi Reggae, Sean Paul. Nantinya, WMG sudah menyatakan dukungan nya untuk pembuatan situs artis lainnya, termasuk untuk jebolan American Idol, Jason Castro, penyanyi R&B Estelle, dan artis Hip Hop Lupe Fiasco.
Eos ini akan menunjang kemampuan situs, baik untuk kebutuhan artis maupun label sendiri. Disamping itu, Eos juga berguna untuk melakukan aktivitas sharing direct-to-consumer (D2C). Mengusung konsep Software as a Service (SaaS), Cisco Eos memungkinkan pelaku media dan hiburan untuk membuat dan mengelola situs hiburan sosial.
Melalui Eos, artis-artis WMG dapat mendapatkan pengalaman hiburan sosial kepada para penggemarnya. Apalagi dengan lingkungan administratif terintegrasi, Cisco Eos akan membantu WMG meluncurkan situs-situs baru dari artisnya. Eos juga menjaga situs tetap unik dan sesuai dengan karakter asli si artis.
Didalam Cisco Eos ini terbundel beberapa fitur utama, yaitu : jaringan sosial, pengelolaan konten, serta lingkungan administratif analitif dan tunggal. Berkat semua fitur tersebut, perusahaan penyedia konten dan media-pun dapat mengelola situs lebih banyak lagi. Hal ini dibuktikan oleh WMG dalam menggunakan Eos pada empat situs baru mereka.
Keempat situs tersebut bahkan telah meraih nominasi Grammy Award kategori band rock Paramore, penyanyi R&B Trey Songz, band rock Halestron, dan desain ulang dari situs penyanyi Reggae, Sean Paul. Nantinya, WMG sudah menyatakan dukungan nya untuk pembuatan situs artis lainnya, termasuk untuk jebolan American Idol, Jason Castro, penyanyi R&B Estelle, dan artis Hip Hop Lupe Fiasco.
Sejarah Awal Cisco Systems
Cisco atau tepatnya Cisco Systems adalah sebuah perusahaan yang didirikan pada tahun 1984 oleh dua orang eks-staf Stanford University, yang bernama Leonard Bosack dan Sandy K. Lerner. Bisnis utama Cisco meliputi berbagai perangkat networking, seperti router, bridge, hub, dan switch.
Kisah tentang Cisco System dimulai sekitar tahun 1980 hingga 1981, yaitu setelah Xerox PARC (Palo Alto Research) menghibahkan beberapa komputer Alto dan Ethernet Card kepada Universitas Stanford.
Kisah tentang Cisco System dimulai sekitar tahun 1980 hingga 1981, yaitu setelah Xerox PARC (Palo Alto Research) menghibahkan beberapa komputer Alto dan Ethernet Card kepada Universitas Stanford.
Menurut sebuah sumber, komputer Alto merupakan cikal-bakal komputer grafis yang telah mengilhami Steve Jobs (pendiri Apple Computer) untuk membuat Macintosh yang legendaris itu. Selain itu, teknologi Ethernet yang digunakan oleh Alto juga telah mengilhami beberapa staf Stanford untuk melakukan riset dibidang jaringan komputer. Sehingga komputer-komputer yang ada di ligkungan Universitas Stanford dapat saling berkomunikasi melalui jaringan komputer.
Pada mulanya, staf Stanford hanya melakukan riset dan bekerja untuk tujuan ilmiah dan pendidikan. Kemudian, dua orang staf bernama Leonard Bosack dan Sandy K. Lerner menginvestasikan dana pribadi untuk mengembangkan multi-protokol router yang "ditanamkan" dalam perangkat berbentuk "seperti komputer" yang diberi label Cisco.
Ide membuat "blue box" yang dilengkapi kipas pendingin dan dapat bekerja dengan hanya menancapkan kabel ternyata merupakan ide yang cemerlang. Apalagi saat itu merupakan awal perkembangan Internet.
Seperti gayung bersambut, perangkat router buatan Cisco laris terjual. Cukup banyak perusahaan dan lembaga pendidikan yang menggunakan router buatan Cisco.
Namun, dibalik kisah sukses tersebut ternyata terselip lembaran kelabu yang mewarnai sejarah Cisco Systems. Sebenarnya teknologi yang dikembangkan oleh Cysco Systems (saat memulai bisnis) merupakan hasil karya beberapa staf Stanford. Sebagian staf Stanford yang mengembangkan multi-protokol router telah pindah ke Cisco dan menyumbangkan hasil karyanya kepada perusahaan Cisco.
Ketika staf Stanford yang lain mengetahuinya, maka terjadilah "perang" antara Stanford dan Cisco Systems. Hal ini hampir saja "mematikan" perusahaan Cisco akibat tuntutan pengacara Stanford atas kewajiban membayar royalti yang cukup besar. Disamping kewajiban lainnya dan hak bagi Stanford untuk tetap dapat menggunakan software hasil pengembangan para staf Stanford yang telah menjadi karyawan Cisco.
Ini adalah sebuah kisah kelabu yang mungkin tidak akan pernah diceritakan oleh pendiri-pendiri Cisco Systems yang saat ini sudah menjadi milyuner. Jika kita rajin meneliti sejarah kelahiran perusahaan IT kelas dunia, ternyata ada banyak perusahaan yang mengawali bisnisnya dengan cara seperti ini.
Perusahaan Xerox telah memproduksi berbagai perangkat yang sangat bermanfaat. Seperti sistem operasi GUI (yang ditiru oleh Apple Computer dan Microsoft), Ethernet card (yang dipasarkan oleh berbagai vendor), printer Laser (lebih populer dengan merk HP), dan very-large-scale integration (VLSI), yang kini banyak digunakan pada mikro-prosesor Intel/AMD.
Xerox membiarkan begitu saja terknologi yang super brilian tersebut ditiru dan dimiliki oleh vendor lain. Omset yang dihasilkan dari penjualan ide Xerox telah menembus angka 10 triliun Dollar. Seandainya saja ada perusahaan tunggal yang memiliki seluruh aset Microsoft, Apple, Intel, HP, dan Cisco, maka Xerox-lah yang paling pantas memilikinya.
![]() |
| Komputer Alto, buatan Xerox |
Ide membuat "blue box" yang dilengkapi kipas pendingin dan dapat bekerja dengan hanya menancapkan kabel ternyata merupakan ide yang cemerlang. Apalagi saat itu merupakan awal perkembangan Internet.
Seperti gayung bersambut, perangkat router buatan Cisco laris terjual. Cukup banyak perusahaan dan lembaga pendidikan yang menggunakan router buatan Cisco.
Namun, dibalik kisah sukses tersebut ternyata terselip lembaran kelabu yang mewarnai sejarah Cisco Systems. Sebenarnya teknologi yang dikembangkan oleh Cysco Systems (saat memulai bisnis) merupakan hasil karya beberapa staf Stanford. Sebagian staf Stanford yang mengembangkan multi-protokol router telah pindah ke Cisco dan menyumbangkan hasil karyanya kepada perusahaan Cisco.
![]() |
| Cisco ASM/2-32EM Router (tahun 1987) |
Ini adalah sebuah kisah kelabu yang mungkin tidak akan pernah diceritakan oleh pendiri-pendiri Cisco Systems yang saat ini sudah menjadi milyuner. Jika kita rajin meneliti sejarah kelahiran perusahaan IT kelas dunia, ternyata ada banyak perusahaan yang mengawali bisnisnya dengan cara seperti ini.
Catatan Bawah
Xerox membiarkan begitu saja terknologi yang super brilian tersebut ditiru dan dimiliki oleh vendor lain. Omset yang dihasilkan dari penjualan ide Xerox telah menembus angka 10 triliun Dollar. Seandainya saja ada perusahaan tunggal yang memiliki seluruh aset Microsoft, Apple, Intel, HP, dan Cisco, maka Xerox-lah yang paling pantas memilikinya.
Sekilas Tentang Cisco IOS
Cisco IOS (Internetwork Operating System) adalah nama sistem operasi yang digunakan pada perangkat router dan switch buatan Cisco. IOS merupakan sistem operasi multi-tasking yang menyediakan fungsi-fungsi routing, switching, internetworking, dan telekomunikasi. Cisco IOS menyediakan command line interface (CLI) dan sekumpulan perintah standar.
Perangkat router original (awal) yang diproduksi Cisco masih belum memiliki CLI. Jadi, program atau file konfigurasi harus dipersiapkan terlebih dahulu di komputer dan kemudian ditransfer ke perangkat Cisco via TFTP (Trivial File Transfer Protocol).
Kurt Lougheed, salah seorang pendiri Cisco Systems, melakukan riset untuk meningkatkan kemampuan perangkat Cisco. Hasilnya adalah CLI generasi pertama yang digunakan pada router Cisco. Saat itu, fitur-fitur yang disediakan masih terbatas dan semua perintah harus diketikkan terlebih dahulu sebelum diproses.
Setelah menekan tombol [Ctrl Z], barulah perintah-perintah yang sudah diketikkan dapat diproses. Jika terjadi error, maka semua perintah harus diketikkan kembali dari awal. Hm... Cukup merepotkan!
Diawal tahun 1990, Greg Satz dan Terry ditugaskan untuk menyempurnakan CLI. Setelah lebih dari 18 bulan, mengalami penggantian tim dan penyempurnaan di sana-sini, maka keluarlah CLI terbaru yang diberi nomor versi 9.21. Inilah Cisco CLI yang menjadi cikal-bakal kemunculan Cisco IOS.
Sebagian besar pengguna komputer, khususnya pengguna sistem operasi grafis (Windows, Macintosh, dan sejenisnya) mungkin akan mengalami kesulitan saat pertama kali menggunakan CLI. Cisco CLI terkesan primitif dan agak berbeli-belit. Hal ini akan sangat dirasakan oleh mereka yang biasa "dimanjakan" fasilitas grafis.
Pengguna Linux/Unix mungkin akan lebih mudah beradaptasi karena ada kemiripan konsep antara Cisco IOS CLI dengan perintah-perintah Linux/Unix OS. Malah banyak pengguna Linux/Unix yang menganggap Cisco CLI lebih sederhana dan lebih mudah digunakan dibandingkan dengan Linux CLI.
Perangkat router original (awal) yang diproduksi Cisco masih belum memiliki CLI. Jadi, program atau file konfigurasi harus dipersiapkan terlebih dahulu di komputer dan kemudian ditransfer ke perangkat Cisco via TFTP (Trivial File Transfer Protocol).
Kurt Lougheed, salah seorang pendiri Cisco Systems, melakukan riset untuk meningkatkan kemampuan perangkat Cisco. Hasilnya adalah CLI generasi pertama yang digunakan pada router Cisco. Saat itu, fitur-fitur yang disediakan masih terbatas dan semua perintah harus diketikkan terlebih dahulu sebelum diproses.
Setelah menekan tombol [Ctrl Z], barulah perintah-perintah yang sudah diketikkan dapat diproses. Jika terjadi error, maka semua perintah harus diketikkan kembali dari awal. Hm... Cukup merepotkan!
Diawal tahun 1990, Greg Satz dan Terry ditugaskan untuk menyempurnakan CLI. Setelah lebih dari 18 bulan, mengalami penggantian tim dan penyempurnaan di sana-sini, maka keluarlah CLI terbaru yang diberi nomor versi 9.21. Inilah Cisco CLI yang menjadi cikal-bakal kemunculan Cisco IOS.
Sebagian besar pengguna komputer, khususnya pengguna sistem operasi grafis (Windows, Macintosh, dan sejenisnya) mungkin akan mengalami kesulitan saat pertama kali menggunakan CLI. Cisco CLI terkesan primitif dan agak berbeli-belit. Hal ini akan sangat dirasakan oleh mereka yang biasa "dimanjakan" fasilitas grafis.
Pengguna Linux/Unix mungkin akan lebih mudah beradaptasi karena ada kemiripan konsep antara Cisco IOS CLI dengan perintah-perintah Linux/Unix OS. Malah banyak pengguna Linux/Unix yang menganggap Cisco CLI lebih sederhana dan lebih mudah digunakan dibandingkan dengan Linux CLI.
Selayang Pandang Setifikasi Cisco
Cisco tidak hanya membuat perangakat jaringan komputer. Namun juga menyediakan program pendidikan yang disebut Cisco Networking Academy.
Tujuan utaman dari program pendidikan tersebut yaitu untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional yang memahami jaringan komputer secara teori maupun praktek. Khususnya memahami bagaimana menggunakan perangkat network buatan Cisco, mampu menganalisis, dan menyelesaikan berbagai persoalan seputar jaringan komputer.
Sebagai bukti bahwa siswa telah menyelesaikan program studi dengan baik, maka Cisco memberikan sertifikat bagi siswa yang lulus tes. Pada mulanya, hanya ada sebuah jenjang pendidikan dan sebuah sertifikasi saja, yaitu CCIE (Cisco Certified Internetwork Expert).
Sayangnya, sedikit sekali orang yang berhasil lulus tes CCIE yang terkenal sulit. Sehingga Cisco membuat track pendidikan yang lebih umum, seperti:
Dengan adanya track-track tersebut, saat ini sudah cukup banyak orang yang berhasil lulus tes yang diselenggarakan oleh Cisco Networking Academy. Mendapatkan setifikat CCNA (Cisco Certified Network Associate) merupaka langkah awal menuju jenjang selanjutnya.
Di Indonesia, sudah ada beberapa lembaga training komputer yang menyediakan training CCNA dan menyediakan tempat tes CCNA. Contoh yang paling dekat dengan saya adalah Binus Center. Sebuah lembaga, yang berdiri dibawah Binus University.
Beberapa hal yang dipelajari saat mengikuti program pendidikan CCNA, antara lain:
Dari tahun ke tahun, Cisco melakukan revisi dan penambahan materi kurikulum CCNA. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang CCNA, silahkan kunjungi situs dibawah ini:
Beberapa judul buku dan materi lainnya yang direkomendasikan oleh Cisco dapat dilihat di situs http://www.ciscopress.com/promotions/index.asp
Seberapa besar pengaruh sertifikasi terhadap karir seseorang sangat dipengaruhi beberapa faktor. Umumnya, pemegang sertifikasi Cisco merasakan adanya peningkatan peluang dan pendapatan (gaji) dibandingkan sebelum meraih sertifikat.
Namun, hal ini tidak dan bukanlah satu-satunya tolak ukur. Tidak semua pemegang sertifikasi Cisco berencana untuk meniti karir di perusahaan IT. Ada yang hanya ingin belajar dan menerapkan ilmu yang diperolehnya untuk tujuan lain (bukan untuk memperoleh materi).
Untuk memahami bagaimana mengoperasikan perangkat Cisco dengan baik, maka mau tidak mau kita harus belajar memahami konsep dasar network. Belajar menggunakanperangkat Cisco dapat dianalogikan seperti belajar mengendarai mobil. Anda tidak harus menjadi seorang pembalap jika ingin menyetir mobil dengan baik. Tentu saja, anda harus memiliki SIM jika ingin mengemudikan mobil di jalan raya.
SIM menjadi bukti bahwa anda sudah layak mengendari mobil. Sertifikasi Cisco dapat dianalogikan dengan SIM. Jika anda hanya ingin mahir mengoperasikan perangkat Cisco dan tidak berhasrat bekerja di perusahaan yang menuntut bukti sertfikat tersebut, maka anda tidak perlu memiliki sertifikasi dari Cisco.
Tujuan utaman dari program pendidikan tersebut yaitu untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional yang memahami jaringan komputer secara teori maupun praktek. Khususnya memahami bagaimana menggunakan perangkat network buatan Cisco, mampu menganalisis, dan menyelesaikan berbagai persoalan seputar jaringan komputer.
Sebagai bukti bahwa siswa telah menyelesaikan program studi dengan baik, maka Cisco memberikan sertifikat bagi siswa yang lulus tes. Pada mulanya, hanya ada sebuah jenjang pendidikan dan sebuah sertifikasi saja, yaitu CCIE (Cisco Certified Internetwork Expert).
Sayangnya, sedikit sekali orang yang berhasil lulus tes CCIE yang terkenal sulit. Sehingga Cisco membuat track pendidikan yang lebih umum, seperti:
- Associate: CCNA, CCNA Concentrations, CCDA.
- Professional: CCNP, CCDP, CCSP, CCVP.
- Expert: CCIE.
Dengan adanya track-track tersebut, saat ini sudah cukup banyak orang yang berhasil lulus tes yang diselenggarakan oleh Cisco Networking Academy. Mendapatkan setifikat CCNA (Cisco Certified Network Associate) merupaka langkah awal menuju jenjang selanjutnya.
Di Indonesia, sudah ada beberapa lembaga training komputer yang menyediakan training CCNA dan menyediakan tempat tes CCNA. Contoh yang paling dekat dengan saya adalah Binus Center. Sebuah lembaga, yang berdiri dibawah Binus University.
Beberapa hal yang dipelajari saat mengikuti program pendidikan CCNA, antara lain:
- Instalasi, konfigurasi, pengoperasian LAN, WAN, dan wireless access service secara secure. Troubleshoot dan konfigurasi small/medium networks (terdiri atas 500 node atau kurang).
- Pengetahuan tentang protokol IP, IPv6, EIGRP, RIP, RIPv2, OSPF, serial connections, Frame Relay, cable, DSL, PPPoE, LAN, switching, VLANs, Ethernet, security, dan access lists.
Dari tahun ke tahun, Cisco melakukan revisi dan penambahan materi kurikulum CCNA. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang CCNA, silahkan kunjungi situs dibawah ini:
- http://www.cisco.com/web/learning/netacad/index.html
- http://brainmatics.com/ccna-640-802-exam-preparation/
- http://netwind.com/html/cisco_training.html
- http://www.binuscenter.com/Products/ATE001/1/1/PackageInfo.aspx
Beberapa judul buku dan materi lainnya yang direkomendasikan oleh Cisco dapat dilihat di situs http://www.ciscopress.com/promotions/index.asp
Seberapa besar pengaruh sertifikasi terhadap karir seseorang sangat dipengaruhi beberapa faktor. Umumnya, pemegang sertifikasi Cisco merasakan adanya peningkatan peluang dan pendapatan (gaji) dibandingkan sebelum meraih sertifikat.
Namun, hal ini tidak dan bukanlah satu-satunya tolak ukur. Tidak semua pemegang sertifikasi Cisco berencana untuk meniti karir di perusahaan IT. Ada yang hanya ingin belajar dan menerapkan ilmu yang diperolehnya untuk tujuan lain (bukan untuk memperoleh materi).
Untuk memahami bagaimana mengoperasikan perangkat Cisco dengan baik, maka mau tidak mau kita harus belajar memahami konsep dasar network. Belajar menggunakanperangkat Cisco dapat dianalogikan seperti belajar mengendarai mobil. Anda tidak harus menjadi seorang pembalap jika ingin menyetir mobil dengan baik. Tentu saja, anda harus memiliki SIM jika ingin mengemudikan mobil di jalan raya.
SIM menjadi bukti bahwa anda sudah layak mengendari mobil. Sertifikasi Cisco dapat dianalogikan dengan SIM. Jika anda hanya ingin mahir mengoperasikan perangkat Cisco dan tidak berhasrat bekerja di perusahaan yang menuntut bukti sertfikat tersebut, maka anda tidak perlu memiliki sertifikasi dari Cisco.
Langganan:
Postingan (Atom)


